Kultum Ramadhan PA Talu: Menakar Ibadah dari Sisi Formil dan Materil
Suasana Ramadhan PA Talu terasa lebih khidmat dengan digelarnya kegiatan kultum yang menjadi bagian agenda di bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini dibuka oleh Hakim, Muhamad Tambusai Ad Dauly, S.H.I., M.H., yang menyampaikan tausiyah reflektif mengenai korelasi antara ibadah dan proses pembuktian dalam hukum acara. Mengangkat analogi yang dekat dengan keseharian aparatur peradilan: proses pengajuan perkara, khususnya aspek pembuktian. Menurutnya, alat bukti hukum memiliki dua sisi, yakni sisi formil dan sisi materil. Sebuah alat bukti jika sudah di nazegelen dan dapat dicocokan dengan asli maka sudah bisa disebut sebagai alat bukti. Terlepas nanti bisa atau tidak memiliki manfaat sebagai nilai pembuktian. Ditarik pada dimensi ibadah. Dalam ibadah, terdapat pula sisi formil dan materil. Selama ini kita sibuk mengejar sisi formil saja, tapi tidak memperhatikan dari sisi materil apakah ibadah kita relevan terhadap nilai penghambaan kita terhadap allah SWT. Menyoroti fenomena umum di bulan Ramadhan, dimana sebagian orang berpuasa sebatas memastikan menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Tanpa memperhatikan apakah puasa berkualitas dan diterima oleh Allah SWT.
Untuk mencapai nilai materil dalam ibadah, setidaknya terdapat dua unsur utama. Pertama, ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Kedua, tidak riya, yakni beribadah demi dilihat atau dipuji oleh orang lain. Dengan dua unsur ini, ibadah berpotensi kehilangan esensinya, sekalipun secara lahiriah tampak sempurna. Menjaga kualitas ibadah, khususnya puasa, tidak cukup hanya berhati-hati agar tidak batal. Lebih dari itu, perlu kewaspadaan agar pahala puasa tidak hilang. Salah satu aspek yang paling berisiko adalah lisan. Ucapan yang melukai, merendahkan, atau mencederai kehormatan orang lain dapat menjadi sebab terhapusnya nilai ibadah. Menutup tausiyahnya dengan refleksi mendalam: sesempurna apa pun nasib yang kita rasakan dan seburuk apa pun penilaian kita terhadap orang lain, belum tentu orang tersebut lebih buruk di hadapan Allah SWT.
_AA


